Raksabumi (Traditional Water Keeper)

Raksabumi adalah tokoh adat yang bertugas mengatur dan menjaga distribusi air irigasi berdasarkan sistem tenur-adat. Istilah ini berasal dari bahasa Sunda: “raksa” (jaga) + “bumi” (tanah/air).

Peran dan Kewenangan

1. Pengatur Distribusi Air

  • Menentukan jadwal pembagian air ke lahan petani
  • Membuka dan menutup pintu air (water gates)
  • Mengimplementasikan gilir-giring (water rotation)
  • Menyesuaikan alokasi berdasarkan kondisi musiman

2. Penyelesaian Sengketa

  • Mediasi konflik antar petani tentang air
  • Memberikan sanksi adat untuk pelanggaran
  • Arbitrase berbasis kearifan lokal

3. Pemeliharaan Sistem

  • Koordinasi gotong royong pembersihan saluran
  • Pengawasan kondisi bangunan air
  • Ritual atau upacara terkait air

4. Pengetahuan Lokal

  • Memahami hidrologi lokal dan pola air
  • Memprediksi ketersediaan air berdasarkan tanda alam
  • Menjaga pengetahuan tradisional tentang sistem irigasi

Sumber Legitimasi

Bukan dari Pemerintah

Kewenangan raksabumi berasal dari:

  • Tradisi - posisi turun-temurun atau dipilih komunitas
  • Pengetahuan - keahlian tentang sistem air lokal
  • Kepercayaan - dihormati karena integritas dan kebijaksanaan
  • Spiritual - kadang dianggap memiliki koneksi spiritual dengan air

Kondisi Saat Ini

Melemahnya Sistem Raksabumi

Faktor:

  • Modernisasi sistem irigasi oleh pemerintah
  • p3a menggantikan fungsi raksabumi dalam sistem formal
  • Generasi muda tidak tertarik menjadi raksabumi
  • Pengetahuan tradisional tidak terdokumentasi dan hilang

Dampak:

  • Hilangnya kearifan lokal dalam pengelolaan air
  • Sistem formal kadang kurang adaptif dibanding sistem adat
  • Konflik meningkat karena hilangnya mediator tradisional

Dualisme Raksabumi dan P3A

Di beberapa desa, kedua sistem beroperasi bersamaan:

Ko-eksistensi:

  • Raksabumi mengatur di tingkat sangat lokal (sub-desa)
  • P3A mengatur di tingkat desa atau antar-desa
  • Petani tua lebih percaya raksabumi, petani muda lebih percaya P3A

Konflik:

  • Keputusan raksabumi vs keputusan P3A tidak konsisten
  • Tidak jelas siapa yang berwenang dalam sengketa
  • Fragmentasi otoritas melemahkan kedua sistem

Nilai yang Perlu Dilestarikan

1. Fleksibilitas

Raksabumi dapat menyesuaikan aturan dengan cepat berdasarkan kondisi lokal, lebih responsif daripada sistem formal yang kaku.

2. Legitimasi Sosial

Keputusan raksabumi dihormati karena kepercayaan komunitas, enforcement melalui norma sosial lebih efektif daripada sanksi legal.

3. Pengetahuan Lokal

Pemahaman mendalam tentang hidrologi lokal, pola cuaca, dan karakteristik tanah - tidak dimiliki teknokrat.

4. Biaya Rendah

Sistem berbasis gotong royong dan sukarela, tidak memerlukan biaya administrasi tinggi seperti sistem formal.

Rekomendasi

Integrasi dalam Sistem Formal

  • Pengakuan peran raksabumi dalam struktur p3a
  • Ko-manajemen (co-management): raksabumi sebagai “juru air” resmi P3A
  • Kompensasi atau honorarium untuk raksabumi

Dokumentasi Pengetahuan

  • Perekaman praktik dan pengetahuan raksabumi
  • Pelatihan generasi muda dengan mentorship raksabumi senior
  • Integrasi dalam kurikulum pertanian lokal

Harmonisasi Hukum

  • Pengakuan legal raksabumi dalam peraturan daerah
  • Formalisasi hak-ulayat yang menjadi basis otoritas raksabumi
  • Mekanisme resolusi konflik yang mengintegrasikan mediasi adat

Lihat Juga


© 2026 Mohamad Mova Al’Afghani, Tenurial Air di Indonesia, CRPG | All rights reserved