GP3A (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air) menghadapi tantangan koordinasi yang signifikan. Tidak ada komunikasi efektif antara p3a-GP3A-Komir, sementara pemilik lahan dari desa tetangga memperumit keanggotaan. Petani di elevasi lebih tinggi masih memerlukan pompa. Demografi petani yang menua dan memudarnya budaya gotong royong menambah kompleksitas.[1]
Ketidaksesuaian Alokasi Air: Meski pengumpulan data bottom-up dilakukan, data justru digunakan untuk membenarkan keputusan top-down. Mantri Air sering tidak melakukan survei menyeluruh, RTTG (rencana tanam) kurang fleksibel, dan pada masa pemilu setiap Camat memastikan wilayahnya mendapat air. Implementasi yang kurang transparan menimbulkan kekhawatiran korupsi.
Disparitas Perizinan: PDAM Indramayu berjuang mendapat izin selama 2 tahun dengan pengajuan berulang, sementara industri di KIM mudah mendapat izin. Konflik dengan masyarakat bahkan melibatkan ancaman kekerasan saat survei sumber mata air.
Cimanuk FAO Water Scarcity Program. (2025). Comprehensive Water Tenure Thematic Analysis, Section: 6.2 Organizational Challenges. ↩︎